Selasa, 16 Januari 2024
Menyimak Teks Negosiasi
Senin, 15 Januari 2024
Refleksi: Manfaat Mempelajari Puisi
Mempelajari puisi Indonesia memiliki berbagai manfaat, tidak hanya dalam pengembangan literasi dan pemahaman sastra, tetapi juga dalam membentuk pemikiran kritis, pengekspresian diri, dan penghargaan terhadap nilai-nilai budaya. Berikut adalah beberapa manfaat mempelajari puisi Indonesia:
1. Pengembangan Keterampilan Bahasa: Mempelajari puisi membantu dalam pengembangan keterampilan bahasa, termasuk penguasaan kosakata, struktur kalimat, dan gaya bahasa.
2. Peningkatan Pemahaman Sastra: Puisi adalah bentuk sastra yang kaya akan makna dan ekspresi. Mempelajari puisi membantu siswa untuk memahami konsep-konsep sastra seperti metafora, simbolisme, dan gaya bahasa.
3. Pengembangan Kreativitas: Menyelami dunia puisi dapat merangsang kreativitas siswa, mendorong mereka untuk mengekspresikan ide-ide mereka sendiri melalui kata-kata.
4. Pengenalan Budaya Lokal:Banyak puisi Indonesia mencerminkan nilai-nilai budaya dan kekayaan tradisi lokal. Mempelajari puisi membantu siswa untuk lebih mengenal dan menghargai warisan budaya Indonesia.
5. Pemahaman Nilai-Nilai Etika dan Moral: Puisi sering kali mencerminkan nilai-nilai etika dan moral. Mempelajari puisi dapat membantu siswa memahami dan merenungkan tentang nilai-nilai ini.
6. Pembentukan Pemikiran Kritis: Analisis puisi membutuhkan pemikiran kritis. Siswa diajak untuk merinci makna yang tersembunyi, mengidentifikasi elemen-elemen sastra, dan menyusun pemahaman yang mendalam.
7. Pengetahuan tentang Sejarah dan Sosial: Banyak puisi Indonesia mencerminkan konteks sejarah dan sosial pada saat itu. Mempelajari puisi membuka wawasan siswa terhadap peristiwa dan dinamika sosial yang mempengaruhi karya sastra.
8. Penguatan Kemampuan Berbicara dan Menulis: Memahami puisi dapat meningkatkan kemampuan berbicara dan menulis siswa. Mereka dapat mengaplikasikan gaya bahasa dan struktur puisi dalam karya tulis mereka sendiri.
9. Pengembangan Emosi dan Empati: Puisi sering kali menciptakan rasa empati dan mendalam. Siswa dapat meresapi pengalaman emosional yang diungkapkan dalam puisi, meningkatkan pemahaman mereka tentang perasaan manusia.
10. Apresiasi Seni dan Estetika: Mempelajari puisi membantu siswa mengembangkan apresiasi terhadap seni dan estetika dalam penggunaan bahasa, ritme, dan struktur sastra.
Dengan memahami dan mempelajari puisi Indonesia, siswa dapat merasakan keindahan bahasa, memperdalam pemahaman mereka tentang budaya dan sejarah, serta mengembangkan keterampilan berbahasa dan literasi yang mendukung perkembangan mereka sebagai individu yang berpikir kritis dan kreatif.
KONSEP PUISI INDONESIA
Pengertian :
1. Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang disajikan dalam bahasa indah dan bersifat imajinatif. erlangga xi
2. Puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, mantra, rima, serta penyusunan larik dan bait. kbbi
3. Puisi adalah bentuk karya sastra yang mengutarakan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan struktur fisik dan struktur batinnya. Waluyo
4. Puisi adalah bentuk sastra yang diungkapkan melalui kata-kata dan bahasa yang kaya, dengan perhatian pada ritme, suara, dan makna mendalam. Puisi seringkali digunakan sebagai medium ekspresi artistik untuk menyampaikan perasan, ide dan pengalaman.
Unsur-Unsur Puisi:
1. tema;
2. rasa, sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisi;
3. nada, sikap penyair terhadap pembaca;
4. amanat, pesan moral yang ingin disampaikan penyair;
5. gaya bahasa;
Gaya bahasa merujuk pada penggunaan bahasa yang kreatif dan tidak konvensional untuk menciptakan efek tertentu dalam tulisan atau pidato. Beberapa contoh gaya bahasa meliputi:
a) Metafora: Penggunaan suatu kata atau frasa untuk mewakili sesuatu yang tidak sesuai secara harfiah, menciptakan perbandingan kreatif. Contoh: "Wajahnya adalah matahari yang bersinar di langit hatiku."
b) Simile: Pembandingan yang menggunakan kata "seperti" atau "bagai" untuk menyamakan dua hal yang berbeda. Contoh: "Dia berkendara cepat seperti angin yang melaju di padang gurun."
c) Personifikasi: Pemberian sifat manusia pada objek atau makhluk non-manusia. Contoh: "Angin berbisik lembut menyapu daun-daun yang gugur."
d) Aliterasi: Pengulangan bunyi konsonan di awal kata yang berdekatan. Contoh: "Raja yang ramah merenung di ruang kerajaan."
e) Asonansi: Pengulangan bunyi vokal di tengah atau akhir kata yang berdekatan. Contoh: "Gelap lelap sang raja memandang langit malam."
f) Hiperbola: Penggunaan ekspresi berlebihan untuk memberikan efek dramatis atau humor. Contoh: "Tasnya berat seperti satu ton ketika aku membawanya."
g) Eufemisme: Penggunaan kata-kata yang lebih lembut atau meredakan untuk merujuk pada sesuatu yang tidak enak atau tidak pantas. Contoh: "Ia telah pergi ke negeri yang jauh" (menggantikan "Ia telah meninggal").
h) Paronomasia: Penggunaan permainan kata atau kata-kata dengan bunyi serupa tetapi dengan makna yang berbeda. Contoh: "Pekerjaan di kebun itu membuat saya 'berbunga-bunga' kebahagiaan."
6. rima;
Rima adalah pengulangan bunyi akhir kata pada baris puisi. Ada beberapa jenis rima yang umum digunakan dalam puisi:
a. Rima Tunggal (Single Rhyme): Pengulangan bunyi pada satu suku kata terakhir pada dua atau lebih baris. Contoh: "Bulan" dan "Bunyi."
b. Rima Berantai (Chain Rhyme): Urutan pengulangan bunyi pada akhir suku kata, seperti A-B-A-B. Contoh: "Bulan" (A), "Bunyi" (B), "Cinta" (A), "Mimpi" (B).
c. Rima Silang (Cross Rhyme): Pengulangan bunyi pada akhir suku kata, tetapi dengan skema yang lebih kompleks, seperti A-B-C-B. Contoh: "Bulan" (A), "Cinta" (B), "Bunyi" (C), "Mimpi" (B).
e. Rima Berganda (Double Rhyme): Pengulangan bunyi pada dua suku kata terakhir. Contoh: "Bulan" dan "Ditanam."
f. Rima Campuran (Mixed Rhyme): Kombinasi berbagai jenis rima dalam satu puisi.
7. tipografi; Tipografi dalam puisi merujuk pada cara huruf-huruf, kata-kata, dan baris-baris disusun serta diatur secara visual pada halaman atau media presentasi. Beberapa elemen tipografi dalam puisi melibatkan:
a) Penataan dan Pemisahan Baris: Cara baris-baris puisi disusun pada halaman dapat mempengaruhi ritme dan pacing pembacaan. Misalnya, penataan dengan baris yang pendek atau panjang dapat menciptakan efek visual yang berbeda.
b) Pemilihan Jenis Huruf: Jenis huruf atau gaya huruf yang dipilih dapat menambahkan nuansa dan karakter tertentu pada puisi. Misalnya, penggunaan huruf berukuran besar atau kecil, atau penggunaan huruf berbentuk khusus.
c) Efek Visual: Penggunaan efek visual seperti miring, tebal, atau garis bawah pada kata-kata tertentu dapat memberikan penekanan dan menyoroti elemen penting dalam puisi.
d) Ruangan Antarbaris dan Antarkata: Jarak antara baris dan kata-kata dapat mempengaruhi tampilan keseluruhan puisi. Ruang yang lebih besar atau lebih kecil dapat menciptakan efek yang berbeda.
e) Penyusunan Teks pada Halaman:Bagaimana puisi disusun pada halaman, apakah berada di tengah, di sisi, atau membentuk bentuk tertentu, dapat menambah dimensi artistik.
f) Penggunaan Warna dan Latar Belakang: Pilihan warna huruf dan latar belakang dapat memberikan dampak visual yang kuat, terutama dalam pengaturan digital atau cetakan berwarna.
g) Gaya dan Bentuk Teks: Penggunaan gaya atau bentuk teks khusus, seperti huruf kapital, dapat menonjolkan kata-kata tertentu atau menciptakan efek dramatis.
8. imaji; Ada beberapa jenis imaji dalam puisi yang berbeda, masing-masing memberikan nuansa dan pengalaman visual yang unik. Berikut adalah beberapa jenis imaji yang umum dalam puisi:
a. Visual Imaji: Gambaran yang menciptakan gambar visual dalam pikiran pembaca. Contoh: "Bunga mekar di bawah sinar matahari."
b. Auditif Imaji: Gambaran yang melibatkan pendengaran, menciptakan suara atau bunyi dalam pikiran pembaca. Contoh: "Desiran ombak yang merdu."
c. Olfaktori Imaji: Gambaran yang melibatkan penciuman, menciptakan aroma atau bau dalam pikiran pembaca. Contoh: "Aroma kopi segar yang menyelimuti pagi."
d. Gustatori Imaji: Gambaran yang melibatkan indera perasaan atau rasa, menciptakan sensasi atau cita rasa dalam pikiran pembaca. Contoh: "Rasa manis madu di lidah."
f. Taktil Imaji: Gambaran yang melibatkan perasaan sentuhan atau tekstur, menciptakan pengalaman fisik dalam pikiran pembaca. Contoh: "Sentuhan lembut angin di pipi."
g. Kinestetik Imaji: Gambaran yang melibatkan gerakan atau perasaan gerakan, menciptakan sensasi pergerakan dalam pikiran pembaca. Contoh: "Langkah-langkah ringan menari di sepanjang pantai."
MENGHAYATI PUISI JOKO PINURBO
DOA ORANG SIBUK YANG 24 JAM SEHARI BERKANTOR DI PONSELNYA
Joko Pinurbo
Tuhan, ponsel saya
rusak dibanting gempa.
Nomor-nomor kontak saya hilang semua.
Satu-satunya yang tersisa
ialah nomorMu.
Tuhan berkata:
Dan itulah satu-satunya nomor
yang tak pernah kausapa.
(2018)
Dalam buku kumpulan puisi “Perjamuan Khong Guan” (2020)
Pertanyaan-Pertanyaan Reflektif!
1. Bagaimana puisi ini mencerminkan ketergantungan kita pada teknologi, terutama ponsel, dalam kehidupan sehari-hari?
2. Apa pesan utama yang ingin disampaikan oleh Joko Pinurbo melalui gambaran Tuhan sebagai satu-satunya nomor yang tidak pernah dihubungi?
3. Bagaimana Joko Pinurbo menggunakan bahasa dan metafora untuk menyampaikan pesannya tentang keterhubungan dengan Tuhan dalam konteks dunia modern?
4. Apakah Anda pernah mengalami momen ketika terlalu terfokus pada ponsel atau pekerjaan sehingga melupakan hal-hal yang lebih penting dalam hidup?
5. Bagaimana puisi ini menciptakan kesadaran akan kebutuhan untuk menjaga keseimbangan antara dunia teknologi dan hubungan spiritual dalam kehidupan sehari-hari?
Rabu, 18 Oktober 2023
Memahami Fakta dan Opini
Ciri-ciri Opini:
1. Tidak dapat dibuktikan kebenarannya.
2. Bersifat subjektif dan biasanya disertai dengan pendapat, saran, dan uraian yang menjelaskan.
3. Tidak memiliki narasumber.
4. Berisi pendapat tentang peristiwa yang terjadi.
5. Menunjukkan peristiwa yang belum pasti terjadi atau terjadi di kemudian hari.
6. Merupakan pikiran atau pendapat seseorang maupun kelompok.
7. Informasi yang disampaikan belum ada pembuktiannya.
8. Biasanya ditandai dengan penggunaan kata-kata: bisa jadi, sepertinya, mungkin, seharusnya, sebaiknya.
Ciri-ciri Opini dalam Kalimat
- Mengandung Pendapat Pribadi
Dalam kalimat opini banyak berisi pendapat dari diri sendiri atau dari orang lain. Dalam beberapa kasus, pada kalimat opini ditemukan pernyataan dari orang yang sudah terkenal sehingga terkesan sebagai fakta. Padahal, perkataan orang itu juga masih sebatas pendapat yang belum bisa dibuktikan kebenarannya.
- Bersifat subjektif
Ciri kedua dari kalimat opini adalah pernyataan yang dipaparkan dalam kalimat cenderung subjektif. Artinya, hal-hal yang dikemukakan hanya menurut satu di antara pihak sehingga tidak bisa dikatakan netral.
- Memiliki Kata Bersifat Relatif
Pada kalimat opini, seseorang akan cenderung menemukan kata yang bersifat relatif. Adapun yang dimaksud relatif di sini ialah kata atau frasa tersebut cenderung bisa berubah tergantung siapa yang mengucapkannya. Kata yang termasuk relatif: di antaranya, paling, lebih, agak, ataupun biasanya.
Sabtu, 14 Oktober 2023
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK MENGANALIS TEKS BERITA
Rapor Pendidikan
Indonesia 2023: Kemampuan Literasi Siswa di Kategori Sedang, SMA Sederajat
Alami Penurunan
- 26 September 2023, 09:18 WIB
PIKIRAN RAKYAT -
Kemampuan literasi siswa
berdasarkan Rapor
Pendidikan 2023 berada dalam kategori sedang. Jenjang SMA sederajat
tercatat sebagai satu-satunya jenjang yang mengalami penurunan dalam indikator
kemampuan literasi.
Rapor Pendidikan 2023 mendefinisikan kategori sedang
sebagai kondisi sebanyak 40-70 persen siswa mencapai kompetensi minimum literasi.
Berdasarkan Rapor Pendidikan 2023,
setiap jenjang pada dasarnya tidak ada yang melampaui 70 persen. Untuk jenjang
SD sederajat, sebanyak 61,53 persen siswa mencapai kompetensi minimum literasi.
Persentasenya naik 8,11 persen dari penilaian sebelumnya yang sebesar 53,42
persen.
Sementara
jenjang SMP sederajat, tercatat sebanyak 59 persen siswa mencapai kompetensi
minimum literasi. Persentase itu naik 7,63 persen dari penilaian sebelumnya,
yakni 51,37 persen.
Kemudian
jenjang SMA sederajat,
tercatat murid yang memiliki kompetensi minimum literasi hanya
49,26 persen. Persentase itu turun 4,59 persen dibandingkan penilaian
sebelumnya, yakni 53,85 persen.
Sumber data Rapor Pendidikan 2023
berasal dari penilaian tahun 2022, utamanya dari data hasil Asesmen Nasional.
Selain hasil AN, sumber data juga berasal dari Data Pokok Pendidikan (Dapodik),
sistem pendataan pendidikan yang dikelola Kementerian Agama (EMIS), Badan Pusat
Statistik (BPS), aplikasi untuk guru dan tenaga kependidikan (seperti PMM,
ARKAS, dan SIMPKB), Badan Akreditasi Nasional (BAN) serta Tracer Study (khusus
data jenjang SMK).
Adapun 11 indikator lain yang ada di Rapor Pendidikan 2023
adalah pengukuran kompetensi dasar literasi-numerasi
dan tumbuh kembang karakter, kualitas pembelajaran, iklim keamanan,
kebhinnekaan, dan inklusivitas, penyerapan lulusan SMK & kemitraan dan
keselarasan dengan dunia kerja, persentase PAUD terakreditasi minimal B, serta
Angka Partisipasi Sekolah (APS).
Keterampilan baca-tulis
Kemdikbudristek
membagi pengertian literasi dalam dua bagian. Pertama adalah literasi awal,
yakni keterampilan membaca dan menulis.
Lalu, kedua, literasi lanjut,
yakni keterampilan membaca yang tidak hanya makna tersurat, tapi juga tersirat
sekaligus tersorot. Literasi tingkat lanjut mensyaratkan pengetahuan lain di
luar bacaan yang bisa diperoleh melalui menyimak, pengalaman pribadi, diskusi
dengan individu lain, maupun penelitian.
Adapun dalam hal kemampuan menulis dalam tahap literasi lanjut,
penulis dianggap harus bisa menuangkan gagasan dalam tulisan dengan melibatkan
pengetahuan lintas bidang dan lintas keilmuan. Hal tersebut sekaligus membuat literasi lanjut
dianggap sebagai satu kesatuan kegiatan pemaduan pengetahuan, konstruksi
keilmuan dan pengalaman lintas bidang.
Kemendikbudristek sendiri telah meluncurkan
Merdeka Belajar Episode-23, sebuah program yang menyediakan buku bacaan untuk
peningkatan literasi. Tercatat sebanyak 15,3 juta eksemplar
didistribusikan kepada lebih dari 6.000 PAUD, 14.000 SD, di sekira 470
kabupaten/kota.
Spesialis Literasi di Article 33, Sofie
Dewayani, mengatakan, minat baca itu tumbuh natural dalam lingkungan keluarga
sedini mungkin. Namun sayangnya, sebagian besar anak-anak di Indonesia tidak
tumbuh di keluarga yang memiliki kebiasaan dalam membaca karena keterbatasan
akses kepada buku maupun karena faktor lainnya.
Oleh sebab itu, menurutnya, guru, kepala
sekolah, tenaga pendidik literasi, harus
berupaya dalam penumbuhan minat baca kepada anak-anak yang sudah agak terlambat
mengenal buku.
"Guru-guru harus merencanakan kegiatan
apa yang akan dilakukan agar siswa memiliki ketertarikan terhadap buku, seperti
memilih buku yang tepat, menceritakan sinopsis kepada siswa dan berdiskusi
mengenai suatu buku,” katanya dalam keterangan pers.***
Bacalah teks di atas untuk menjawab pertanyaan!
Analisis Konten
1. Jelaskan alasan teks di atas termasuk berita?
2. Tujuan Teks berita di atas adalah...
3. Analisis Struktural
Analisis struktur Teks Berita di atas!
Lead: (kutipan)
Body: (kutipan)
Ekor: (kutipan)
4. Analisilah kaidah kebahasaan Teks Berita di atas!
a. Kalimat langsung dan tidak langsung
b. Verba pewarta
c. Kata Baku
d. Konjungsi Temporal
5. Tuliskan Opini dan Fakta yang terdapat dalam teks tersebut!
Rabu, 11 Oktober 2023
Fakta dan Opini: Menyelami Perbedaan Mendasar
Fakta:
Fakta adalah informasi yang dapat diverifikasi dan diukur. Mereka bersifat objektif dan independen dari sudut pandang pribadi. Contoh fakta termasuk data statistik, peristiwa sejarah yang tercatat, dan hasil penelitian ilmiah. Fakta memberikan dasar yang kuat untuk pembentukan pemahaman yang akurat dan umumnya diterima sebagai kebenaran tanpa interpretasi yang berlebihan.
Opini:
Opini adalah pandangan atau penilaian pribadi seseorang terhadap suatu hal. Ini bersifat subjektif dan dapat bervariasi antarindividu. Opini cenderung mencerminkan sudut pandang, nilai-nilai, atau keyakinan pribadi. Mereka tidak dapat diukur atau diverifikasi secara obyektif karena berakar dalam persepsi individu. Opini seringkali muncul dalam bentuk ungkapan perasaan, kepercayaan, atau preferensi.
Identifikasi Fakta dan Opini Teks Berikut!
Bersama Menghentikan “Bullying”, Demi Masa Depan Cerah Generasi Penerus Bangsa
Oleh : Refy Gabriella Vanesa, SPsi *
Pengantar
Fenomena bullying (perundungan/penindasan) terhadap anak-anak di Tanah Air kita ini masih menjadi salah satu masalah yang belum bisa diatasi hingga tuntas. Hal tersebut ditandai dengan masih banyaknya kasus-kasus bullying di Indonesia. Berdasarkan catatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), kasus bullying di Indonesia hingga medio Juli ini mencapai 1.150 kasus.
Sebanyak 12 kasus bullying tersebut terjadi tahun ini. Kasus bullying tersebut umumnya terjadi di sekolah dasar (SD) dan sering terjadi juga di tingkat Selokah Menengah Pertama (SMP). Bahkan menurut KPAI, Indonesia masuk peringkat kelima dari negara 78 negara yang mengalami banyak kasus bullying.
Dampak kasus bullying terhadap masa depan generasi muda Indonesia sangat berat. Perundungan sangat merusak psikis anak dan bisa membenamkan kualitas generasi penerus bangsa. Jika tidak ada langkah nyata yang terpadu mencegah dan menanggulangi perundungan anak, generasi muda penerus estafet kepemimpinan dan pembangunan bangsa kita bisa kehilangan kualitas dan daya saing memasuki satu abad Indonesia tahun 2045.
Membuat Pilu
Maraknya kasus bullying anak di Indonesia hingga kini benar-benar memantik keprihatinan mendalam. Apalagi kita baru saja memperingati Hari Anak Nasional 23 Juli 2023. Kondisi ini juga mengirimkan pesan kepada publik bahwa perlindungan terhadap perundungan anak di Indonesia sedang tidak baik-baik saja.
Kasus bullying tidak hanya terjadi di lingkungan rumah dan kantor, namun juga sering terjadi di lingkungan pendidikan seperti sekolah dan universitas. Hal tersebut juga menjadi gambaran bahwa bullying dapat terjadi kepada siapa saja, terutama pada anak-anak hingga remaja.
Baru-baru ini kasus bullying membuat hati pilu dan gerah. Seorang siswa SD di Banyuwangi ditemukan mengakhiri hidupnya dengan cara menggantung diri di rumah karena merasa tidak kuat menahan bully (penindasan) yang dilakukan oleh teman sebayanya hanya karena ia tidak mempunyai ayah.
Ada juga beredar juga video yang diunggah di media sosial (YouTube) saat seorang siswi SD di Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) yang tidak berdaya menerima kekerasan fisik dari teman-temannya. Tampak di video tersebut beberapa siswi yang seolah menikmati aksi mereka menyiksa rekan mereka. Mereka tertawa – tawa dengan bangga menghadap kamera setelah melakukan atau menyaksikan pemukulan kepada korban.
Kasus lain, siswa SMP di Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah yang nekad melakukan pembakaran sekolahnya lantaran ia sudah enam bulan di-bully seperti dikeroyok oleh kakak kelas dan teman satu kelas. Dia juga menerima perlakuan tidak menyenangkan dari oknum oknum guru yang seharusnya memberikan perlindungan di sekolah. Hal itu menaruh luka di hati siswanya.
Anggar Kekuasaan
Perilaku bullying merupakan sebuah situasi dimana telah terjadi penyalahgunaan kekuatan atau anggar kekuasaan yang dilakukan seseorang ataupun sekelompok orangterhadao orang lain. (Sejiwa, 2008:2). Bullying dilakukan secara terus-menerus oleh pihak-pihak yang merasa dirinya lebih kuat dengan tujuan membuat korban menderita serta tidak berdaya. Biasanya pelaku bullying berdalih bahwa yang mereka lakukan hanyalah sebuah candaan belaka.
Menurut Psikolog Andrew Mellor, ada beberapa jenis bullying yang sering terjadi. Pertama, tindakan fisik. Ini merupakan jenis bullying yang melibatkan kontak fisik antara pelaku dan korban. Misalnya memukul, menendang, meludahi, mendorong, memaksa korban melakukan ativitas fisik tertentu, merusak barang milik korban dan tindakan lainnya. Bullying fisik dapat langsung terlihat dan disadari oleh lingkungan sekitar.
Kedua, tindakan verbal. Ini merupakan sebuah tindakan bullying yang sulit diamati karena melibatkan bahasa verbal yang menyakiti hati seseorang. Misalnya mengejek, memberi nama julukan yang tidak pantas, memfitnah, melecehkan melalui pernyataan seksual, meneror dan lain-lain.
Ketiga, relasional. Ini merupakan tindakan bullying yang sulit ditangkap oleh mata dan telinga. Misalnya memandang seseorang sinis/penuh ancaman, mengucilkan seseorang, mendiamkan dan mengakhiri hubungan tanpa alasan dan sebagainya. Biasanya hal ini terjadi karena munculnya situasi di mana kelompok tertentu berseberangan dengan kelompok ataupun individu lain.
Keempat, elektronik/cyberbullying. Gejala ini merupakan perilaku bullying yang dilakukan melalui media elektronik seperti komputer, handphone (telepon genggam), internet, website (portal media), chatting room (ruang komunikasi online), email (surat elektronik), pesan pendek (short message sent/sms) dan sebagainya. Biasanya kebanyakan pelaku cyberbullying bersembunyi di balik alasan “hanya sekedar opini”.
Pengaduan
Berdasarkan Pusat Data dan Informasi, hingga 31 Maret 2023, KPAI telah menerima 64 pengaduan kasus bullying. Kasus bullying tersebut terdiri dari kekerasan terhadap anak pada satuan pendidikan, yakni meliputi kekerasan fisik, bullying, kekerasan seksual, korban diskriminasi kebijakan satuan pendidikan, hingga kebijakan pemerintah daerah yang tidak memperhatikan prinsip hak partisipasi anak.
Hal ini perlu mendapat perhatian dan harus kita sikapi bersama demi melindungi, mengurangi dan menghentikan perilaku bullying yang kerap diterima maupun dilakukan oleh anak-anak yang merupakan penerus bangsa. Bullying ini harus dihentikan karena dampaknya sangat beragam, salah satunya ialah dampak psikologis.
Biasanya para korban bullying merasa bingung, tidak berdaya, malu, putus asa dan takut untuk mengungkapkan hal yang terjadi pada diri mereka. Akhirnya para korban memilih untuk diam dan menyimpan sendiri pengalaman tidak menyenangkan tersebut. Para korban cenderung merasa bingung bagaimana cara untuk mengungkapkan perundungan yang terjadi karena tidak memiliki bukti.
Kemuidian korban bullying juga kerap berpikir tidak ada orang yang peduli akan apa yang mereka alami. Atau merasa tidak ada yang bisa menolong untuk menghentikan perundungan tersebut. Mereka takut jika mereka melaporkan situasi yang terjadi, pelaku bullying akan melakukan hal yang lebih menyeramkan di kemudian hari.
Anak-anak yang menjadi korban bullying akan cenderung sulit berinteraksi dengan orang lain, menurunnya prestasi, kehilangan kepercayaan diri dan kesehatan mental yang terganggu. Misalnya memiliki gangguan kecemasan, gangguan tidur, gangguan emosi, trauma, keinginan untuk membalas dendam dan depresi.
Korban bullying juga dan kerap memiliki keinginan melakukan tindakan yang menyakiti diri mereka sendiri (self harm) hingga ada yang nekad mengakhiri hidup (suicidal thought/attempt) seperti kasus-kasus yang telah terjadi.
Sementara anak-anak yang menjadi pelaku bullying akan terperangkap dalam peran yang ia “nikmati dan senangi”. Mereka tidak dapat mengembangkan hubungan yang sehat dan tidak memiliki empati. Mereka beranggapan bahwa mereka disukai dan disegani. Bahkan mereka sering berpikir bahwa mereka memiliki kekuasaan terhadap keadaan.
Jika kita terus menutup mata dan telinga terkait hal ini, maka sifat pelaku bullying tersebut dapat menimbulkan kenakalan-kenalakan lain di masa yang akan datang. Maka, langkah preventif harus dilakukan untuk mengatasi permasalahan perilaku bullying ini.
Langkah Pencegahan
Melihat begitu besarnya dampak negatif bullying, baik terhadap korban maupun pelakunya, maka fenomena bullying harus mendapatkan perhatian dan penangana serius dari pihak terkait. Untuk menghentikan bullying dibutuhkan kolaborasi, inisiasi dan peran orang dewasa (orang tua, guru, pengasuh dan pihak lain) mencegah terjadinya bullying di sekolah maupun di rumah.
Kemudian perlu juga dilakukan edukasi (pemberian pengetahuan) kepada anak-anak sedari dini terkait perilaku bullying yang disesuaikan dengan rentang usia. Hal ini penting agar agar anak mengetahui dampak yang akan terjadi apabila mereka melakukan perbuatan bullying. Anak-anak juga perlu diberikan edukasi terkait apa yang harus dilakukan jika menjadi korban bullying.
Edukasi bisa dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Misalnya melakukan kunjungan ke sekolah oleh pihak-pihak yang memiliki wewenang. Kemudian membuat poster terkait bahaya perilaku bullying. Selanjutnya pihak orang tua juga perlu memberikan pendampingan saat anak-anak menyaksikan acara yang memperlihatkan perilaku-perilaku kekerasan yang kemungkinan akan mereka contoh di kehidupan.
Selain itu, guru dan orang tua perlu belajar memberikan validasi emosi, simpati dan empati kepada anak-anak yang menjadi korban bullying. Hal itu penting agar mereka merasa aman dan nyaman untuk bercerita tentang kegiatan yang mereka lakukan setiap harinya.
Terkadang, karena kelelahan akibat aktivitas di kantor yang padat atau banyaknya jumlah murid di sekolah (khususnya bagi para guru), kita kurang aware (menyadari) perilaku anak yang berubah. Kita menjadi sulit meluangkan waktu untuk sekedar bertanya dan mendengarkan cerita anak.
Guru dan orang tua harus belajar untuk menjadi “telinga” bagi anak-anak. Hal itu dapat dilakukan dengan mendengarkan keluh kesah anak tanpa memotong pembicaraan. Tidak menilai dan menghakimi dari sudut pandang orang dewasa. Serta yang paling penting adalah berusaha “hadir dan menyimak” saat mereka mengungkapkan apa yang dirasa.
Orang tua atau guru juga perlu melakukan eye contact (kontak mata) selama proses diskusi berlangsung, memberikan sentuhan hangat kepada anak serta merespon cerita mereka dengan antusias (apapun ceritanya). Hal ini menumbuhkan keyakinan pada diri anak bahwa ia memiliki support system (dukungan) yang akan selalu ada untuk mereka.
Terakhir, pemberian sanksi dan aturan yang tegas, adil, dan bijak mengenai tindakan bullying di lingkungan sekolah perlu digaungkan dan dilakukan dengan tegas. Hal tersebut perlu guna menimbulkan efek jera (shock therapy) bagi para pelaku. Hal itu diharapkan dapat menguubah pola pikir dan tingkah laku mereka menjadi lebih baik.
Jika kerja sama seluruh pihak (orang tua, keluarga, sekolah, lingkungan dan pemerintah) bisa dijalin dengan baik memberikan perlindungan kepada anak, termasuk pencegahan bullying, penulis optimis kita dapat mewujudkan Anak Indonesia Generasi Emas Tahun 2045. Menciptakan generasi yang cerdas, sehat, unggul, berkarakter dan dalam suka cita yang bersendikan pada nilai-nilai moral yang kuat tentunya menjadi cita-cita kita semua.
Karena itu mari bersama-sama mewujudkan lingkungan yang aman dan nyaman untuk anak. Mari kita hentikan/hindari kekerasan pada anak. Perlidungan anak dari bullying dan tindak kekerasan lain juga kita harapkan bisa membuat anak-anak Indonesia lebih berani memperjuangkan dan menyuarakan hak-hak mereka di masa mendatang. Anak Terlindungi, Indonesia Maju.***
• Penulis adalah Staf Sub Bagian Komunikasi Pimpinan Biro Administrasi Pimpinan Sekretariat Daerah Provinsi Jambi, lulusan Sarjana Psikologi.
-
Fakta: Fakta adalah informasi yang dapat diverifikasi dan diukur. Mereka bersifat objektif dan independen dari sudut pandang pribadi. Contoh...
-
Sumatif Lingkup Materi TAHUN PELAJARAN 2025/2026 Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Kelas/Semester ...
-
Sumatif Lingkup Materi Puisi TAHUN PELAJARAN 2025/2026 Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Kelas/Semester ...