Minggu, 04 Oktober 2026

MEMAHAMI TEKS EKSPOSISI TENTANG TEKNOLOGI DAN LINGKUNGAN

MATERI AJAR BAHASA INDONESIA KELAS X (FASE E)

Topik: Menganalisis dan Menulis Teks Eksposisi mengenai Dilema Ekologis & Tata Kelola Pusat Data AI


A. Pengertian dan Struktur Teks Eksposisi

Teks eksposisi adalah teks nonfiksi yang bertujuan menyampaikan informasi, pengetahuan, atau gagasan secara jelas, padat, dan akurat berdasarkan fakta serta argumen yang logis.

Struktur Teks Eksposisi terdiri atas 3 bagian utama:

  1. Tesis (Pernyataan Pendapat/Isu Utama): Bagian pembuka yang memperkenalkan isu lingkungan dari skala global hingga lokal.
  2. Rangkaian Argumen: Bagian isi yang menyajikan fakta numerik, mekanisme teknis liquid cooling, rantai pasokan global, hingga studi kasus penghentian proyek di Jatiluhur akibat isu AMDAL dan air irigasi.
  3. Penegasan Ulang (Simpulan/Rekomendasi): Bagian penutup yang menegaskan kembali pentingnya transparansi, perlindungan ekosistem lokal, dan pembangunan berkeberlanjutan.

B. Teks Eksposisi Lengkap (Bahan Ajar Siswa)

Judul: Revolusi Kecerdasan Buatan dan Ancamannya terhadap Air Bersih: Dari Isu Global hingga Waduk Jatiluhur

1. Tesis
Perkembangan teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) membawa kemudahan luar biasa dalam kehidupan modern, mulai dari pemrosesan data hingga otomatisasi industri. Namun, di balik kecanggihan tersebut, revolusi AI membutuhkan konsumsi air bersih dan energi listrik dalam jumlah yang sangat masif. Tanpa tata kelola perizinan yang ketat dan transparansi lingkungan, pembangunan pusat data (data center) AI berisiko memperparah krisis air bersih, mengganggu sektor pertanian, dan memicu konflik sosial, sebagaimana yang terjadi dari skala global hingga kasus lokal di Jatiluhur, Purwakarta.

2. Rangkaian Argumen
A. Mekanisme Teknis Penggunaan Air dan Efek Penguapan
Setiap kueri atau perintah yang diajukan ke sistem AI memicu kerja intensif chip pemroses khusus di dalam pusat data. CEO OpenAI Sam Altman pernah mengklaim bahwa satu interaksi dengan ChatGPT hanya membutuhkan 1/15 sendok teh air. Namun, para peneliti independen bersikap skeptis. Untuk model bahasa besar berukuran sedang seperti GPT-3, pemrosesan 10 hingga 50 kueri diperkirakan mengonsumsi sekitar 500 ml air (setara satu botol air minum) jika memperhitungkan sistem pendingin dan pembangkitan listrik.

Karena pemrosesan AI menghasilkan panas ekstrem, industri beralih dari pendingin udara ke sistem pendinginan cairan (liquid cooling). Air murni/air minum digunakan untuk mendinginkan cairan coolant pemindah panas dari server agar tidak terjadi korosi atau penyumbatan. Air panas tersebut kemudian dipompa ke menara pendingin (cooling tower), di mana kombinasi kipas dan penguapan digunakan untuk melepas panas. Dalam proses ini, hingga 80% air menguap ke atmosfer dan hilang dari sirkulasi air lokal yang dibutuhkan masyarakat untuk irigasi, konsumsi, dan sanitasi.

B. Dampak Rantai Pasokan Global dan Tantangan Target 2030
Selain konsumsi langsung, AI menyedot air secara tidak langsung melalui pembangkit listrik (batu bara, gas, nuklir) yang membutuhkan uap air pemutar turbin. Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan kebutuhan listrik pusat data AI akan melonjak 400% pada tahun 2030 mencapai 300 terawatt jam (TWh), setara konsumsi listrik tahunan seluruh negara Inggris. Air bersih juga diperlukan dalam pemurnian bahan mentah kritis dan pembuatan chip semikonduktor. Meskipun perusahaan raksasa seperti Google, Microsoft, dan Meta menargetkan status water neutral pada 2030, ketiadaan rincian data penggunaan air khusus AI serta tingginya penguapan menjadi tantangan besar yang memicu protes warga di berbagai negara seperti Spanyol, India, Chile, Uruguay, dan Amerika Serikat.

C. Studi Kasus Lokal: Proyek Data Center AI BDx di Jatiluhur, Purwakarta
Isu lingkungan ini kini menjadi kenyataan di Indonesia. Di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat—sekitar 5 kilometer dari Bendungan Jatiluhur—sedang dibangun proyek data center AI bernilai investasi Rp 3,5 triliun milik BDx Data Centers bernama AI Campus 2 (CGK4). Fasilitas ini dirancang memiliki kapasitas daya hingga 640 Megawatt (MW) di atas lahan kawasan hingga 11 hektar.

Namun, kebutuhan air untuk operasional fasilitas ini sangat besar, yakni diperkirakan mencapai 6.000 meter kubik per hari pada tahap awal dan melonjak hingga 384 liter per detik (sekitar 33.000 meter kubik per hari) saat beroperasi pada kapasitas maksimal. Besarnya kebutuhan air ini memicu sorotan dari WALHI dan masyarakat terkait dampaknya terhadap ketersediaan air lokal.

Merespons hal tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Gubernur Dedi Mulyadi menghentikan sementara proyek tersebut pada akhir September 2026 karena pengembang belum menyelesaikan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) serta Persetujuan Bangunan Gedung (PBG). Langkah penghentian ini diambil untuk memastikan bahwa operasional data center AI tidak boleh mengurangi jatah air bersih untuk sektor pertanian warga serta mendorong agar dokumen AMDAL dibuka secara transparan kepada publik.

3. Penegasan Ulang
Kasus di Jatiluhur menegaskan bahwa kemajuan teknologi AI tidak boleh mengorbankan ketahanan pangan dan kebutuhan dasar masyarakat akan air bersih. Penegakan hukum, kelengkapan perizinan AMDAL, transparansi publik, serta pengembangan teknologi pendingin ramah lingkungan (zero-evaporation) merupakan syarat mutlak agar investasi teknologi di Indonesia dapat berjalan seiring dengan kelestarian lingkungan.


C. Unsur Kebahasaan Teks Eksposisi

  1. Istilah Teknis (Glosarium):
    • Liquid Cooling: Metode pendinginan komponen elektronik menggunakan cairan pemindah panas.
    • AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan): Kajian mengenai dampak penting suatu usaha/kegiatan terhadap lingkungan hidup.
    • PBG (Persetujuan Bangunan Gedung): Perizinan yang diberikan kepada pemilik bangunan untuk membangun atau mengubah bangunan gedung.
    • Megawatt (MW): Satuan daya listrik setara satu juta watt.
  2. Verba Kausalitas (Sebab-Akibat): menghasilkan, menyebabkan, memunculkan, mengakibatkan, memicu.
  3. Konjungsi Argumentatif: sebab, oleh karena itu, di samping itu, namun, sebagaimana.
  4. Data Faktual & Numerik: 80% air menguap, Rp 3,5 triliun, 384 liter/detik, 33.000 m³/hari.

D. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)

  1. Analisis Isu Lokal vs Global:
    Berdasarkan teks di atas, sebutkan persamaan antara isu penggunaan air oleh AI di tingkat global (laporan BBC) dan di tingkat lokal (proyek Jatiluhur, Purwakarta)!
  2. Analisis Kebahasaan & Data:
    Tuliskan 3 data angka (numerik) dari kasus Jatiluhur beserta penjelasannya untuk mendukung argumen bahwa data center AI membutuhkan sumber daya yang sangat besar!
  3. Struktur Teks:
    Tunjukkan Paragraf mana yang memuat bagian Tesis, Rangkaian Argumen Lokal, dan Penegasan Ulang!

E. Bahan Diskusi & Refleksi di Akhir Pembelajaran

Tema Diskusi: "Data Center AI di Jatiluhur: Antara Kemajuan Teknologi, Investasi Rp 3,5 Triliun, dan Hak Air Pertanian"

Panduan Pertanyaan Pemantik Kelas:

  1. Dilema Investasi vs Lingkungan:
    Proyek Data Center AI BDx di Jatiluhur membawa nilai investasi raksasa hingga Rp 3,5 triliun. Namun, di sisi lain, fasilitas ini membutuhkan air hingga 384 liter per detik. Menurut kalian, apakah pemerintah daerah sudah tepat menghentikan proyek tersebut sampai dokumen AMDAL selesai, ataukah tindakan tersebut berisiko menghambat masuknya investasi teknologi ke Indonesia?
  2. Perlindungan Sektor Pertanian:
    Gubernur Dedi Mulyadi menegaskan bahwa alokasi air untuk data center AI tidak boleh mengurangi jatah air untuk irigasi pertanian masyarakat. Mengapa ketahanan pangan/pertanian harus diprioritaskan dibandingkan kebutuhan industri teknologi AI?
  3. Transparansi AMDAL:
    Mengapa pembukaan dokumen AMDAL secara terbuka kepada publik sangat penting sebelum proyek berisiko tinggi seperti data center AI diizinkan beroperasi? Apa dampaknya bagi masyarakat sekitar Waduk Jatiluhur jika perizinan dilakukan secara tertutup?
  4. Refleksi Etika Pengguna AI:
    Setelah mengetahui bahwa proyek data center AI di daerah kita sendiri (Jawa Barat) menyedot puluhan ribu meter kubik air per hari, bagaimana hal ini mengubah cara pandang kalian saat menggunakan aplikasi kecerdasan buatan sehari-hari?



Hausnya Kecerdasan Buatan: 5 Realitas Mengejutkan di Balik Layar AI dan Krisis Air Bersih Kita

 


Setiap kali Anda meminta AI merapikan baris kode, menyusun surel kerja, atau sekadar menjawab pertanyaan sederhana, jemari Anda meluncur riang di atas layar. Semuanya terasa begitu gaib, instan, dan melayang tanpa beban fisik di dalam abstraksi yang kita sebut sebagai "komputasi awan" (cloud).

Namun, awan digital ini sebenarnya berakar di atas tanah—dan ia sedang kehausan. Di balik antarmuka yang serba mulus, jutaan instruksi digital yang Anda kirimkan bermuara pada gumpalan prosesor raksasa di dalam fasilitas data center. Proses komputasi intensif ini memicu panas ekstrem pada komponen keras, yang pada akhirnya menuntut konsumsi air bersih dalam jumlah luar biasa demi menjaga mesin agar tidak hangus.

Dampak komputasi awan kini tidak lagi terisolasi di alam virtual. Ia telah menjejak nyata di atas bumi yang kita pijak, memicu ketegangan ekologis, dan menempatkan pasokan air bersih kita di titik kritis.

1. Setiap Pertanyaan ke AI Meminum Air Bersih Nyata (Bukan Sekadar Data di Awan)

Saat kueri dikirimkan ke model AI, cip pemrosesan paling canggih di dalam data center dipaksa melakukan miliaran kalkulasi rumit secara simultan. Beban kerja ekstrem ini menghasilkan panas membara. Karena sistem pendingin udara biasa (air cooling) tak lagi sanggup meredamnya, para pengelola teknologi beralih ke sistem pendingin cair (liquid cooling). Agar pipa pendingin tidak berkerak, tersumbat, atau dihinggapi bakteri, air yang digunakan haruslah air bersih murni berstandar air minum.

Pimpinan OpenAI, Sam Altman, pernah mengklaim bahwa satu kueri ke ChatGPT hanya mengonsumsi sekitar 1/15 sendok teh air. Namun, para pakar independen sangat skeptis terhadap angka minim tersebut. Estimasi Altman diduga hanya berlaku untuk model komputasi sangat kecil dan sederhana.

Untuk model bahasa besar (LLM) berukuran sedang (seperti kelas GPT-3 atau GPT-4) yang kita gunakan sehari-hari, setiap 10 hingga 50 kueri sebenarnya menghabiskan sekitar 500 ml air bersih—setara satu botol kemasan sedang. Angka ini mencakup akumulasi penggunaan air langsung untuk pendinginan mesin sekaligus penggunaan air tak langsung dalam pembangkitan daya listrik.

Sisi paling mengkhawatirkan terletak pada siklus pembuangan panasnya. Air pendingin yang menyerap panas server dialirkan ke menara pendingin (cooling tower), di mana kipas raksasa membuang panas melalui proses penguapan. Hingga 80% air dalam sistem ini hilang menguap ke atmosfer dan keluar dari sirkulasi air bumi.

"Proses penguapan ini membuat air tersebut hilang dari sirkulasi yang sebenarnya dibutuhkan untuk irigasi, konsumsi manusia, dan sanitasi."

Inilah paradoks terbesar era modern: saat kita mengira kecerdasan buatan hanya menyedot bit dan watt di alam maya, ia sebenarnya sedang 'meminum' air bersih dari cangkir kehidupan warga.

2. Konflik Nyata di Lapangan: Proyek AI Rp 3,5 Triliun di Jatiluhur Dihentikan

Ancaman ekologis AI bukan lagi sekadar prediksi di atas kertas, melainkan telah memicu benturan sosial dan lingkungan yang nyata. Salah satu bukti paling dramatis terjadi di Purwakarta, Jawa Barat—lokasi pembangunan pusat data kecerdasan buatan AI Campus 2 (CGK4) milik BDx Data Centers.

Proyek raksasa bernilai investasi Rp 3,5 triliun ini berdiri di atas lahan awal seluas 8.000 meter persegi dengan rencana ekspansi hingga 11 hektar, berjarak hanya 5 kilometer dari Bendungan Jatiluhur. Fasilitas komputasi ini dirancang menyedot daya listrik hingga 640 Megawatt (MW) (tahap awal 120 MW).

Kebutuhan airnya sangat fantastis: 6.000 meter kubik per hari pada tahap awal, dan melonjak hingga 384 liter per detik (sekitar 33.000 meter kubik per hari) saat beroperasi pada kapasitas maksimal.

Padahal, Bendungan Jatiluhur adalah urat nadi kehidupan masyarakat Jawa Barat—sumber utama irigasi ribuan hektar sawah dan penopang air minum wilayah perkotaan. Mengalihkan 33.000 meter kubik air bersih per hari untuk mendinginkan server AI secara langsung mengancam ketahanan pangan regional dan hak dasar warga lokal.

Melihat risiko bencana ekologis tersebut, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengambil tindakan tegas untuk menghentikan seluruh aktivitas pembangunan proyek tersebut demi menyelamatkan jatah air pertanian warga.

"PBG dan AMDAL belum keluar. Jangan dulu berjalan proyeknya. Berhentikan dulu pembangunannya."

Sikap tegas ini membawa pesan moral yang sangat jernih: megaproyek teknologi bernilai triliunan rupiah tidak boleh melibas ketahanan pangan dan merampas air milik para petani lokal.

3. Jejak Air Tersembunyi: Pembangkit Listrik hingga Manufaktur Cip

Konsumsi air oleh kecerdasan buatan tidak berhenti di dalam ruang server data center. Jika dirunut dari hulunya, teknologi AI memiliki jejak air tersembunyi (invisible water footprint) yang sangat panjang di sepanjang rantai pasoknya (supply chain).

  • Pembangkit Listrik: Pembangkit listrik termal (batu bara, gas, hingga nuklir) yang menyuplai daya ke data center membutuhkan uap air skala besar untuk memutar turbin generatornya. Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan bahwa kebutuhan listrik data center khusus AI akan melonjak 400% pada tahun 2030 menjadi 300 Terawatt-hours (TWh)—setara dengan konsumsi listrik seluruh negara Inggris selama setahun penuh.
  • Manufaktur Cip Semikonduktor: Pembuatan komponen keras AI seperti Graphics Processing Unit (GPU) membutuhkan pemurnian bahan mentah kritis dan pencucian silikon menggunakan air ultra-murni dalam jumlah jutaan liter.

Skala "jejak air" raksasa inilah yang tersembunyi dengan rapi di balik aplikasi ponsel kita yang tampak ringan dan tanpa beban.

4. Ketegasan Penegakan Hukum: Penolakan Fasilitas Mewah demi Kepatuhan Izin

Di tengah derasnya arus investasi digital, integritas tata kelola lingkungan menuntut keberanian pemerintah daerah untuk mengedepankan hukum di atas kepentingan korporasi.

Kronologi penegakan hukum pada proyek BDx Data Centers di Purwakarta menjadi pelajaran penting:

  • 28 Juli 2026 (Sidak Lapangan): Gubernur Dedi Mulyadi melakukan sidak mendadak ke lokasi proyek. Beliau secara tegas menolak fasilitas tenda penyambutan mewah yang disiapkan perusahaan, sembari menegaskan bahwa kedatangannya bukan untuk meresmikan proyek, melainkan memeriksa kepatuhan perizinan lingkungan. Gubernur mempertanyakan kelengkapan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) serta Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).
  • 30 September 2026 (Instruksi Penghentian Resmi): Setelah mengonfirmasi bahwa pembangunan fisik terus berjalan sementara dokumen AMDAL dan PBG belum rampung akibat kelalaian pihak konsultan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat secara resmi menghentikan seluruh kegiatan proyek dan menerjunkan Satpol PP untuk mengawasi lokasi.

Langkah ini memperlihatkan pentingnya transparansi dokumen AMDAL bagi publik. Pengawasan ketat daerah adalah benteng terakhir agar raksasa teknologi tidak beroperasi secara gegabah dan merusak ekosistem lokal.

5. Mencari Rumah Baru untuk AI: Dari Bawah Laut hingga Luar Angkasa

Tuntutan ekologis ini memaksa industri teknologi global memikirkan ulang arsitektur masa depan mereka. Perusahaan raksasa seperti Google, Microsoft, dan Meta telah mengumandangkan komitmen untuk mencapai status water neutral pada tahun 2030—mengembalikan lebih banyak air bersih ke masyarakat daripada yang mereka konsumsi.

Berbagai eksperimen radikal kini sedang diuji di tingkat global:

  • Sistem Pendingin Gelanggang Tertutup (Closed-Loop): Mengembangkan teknologi mendinginkan server tanpa membiarkan air menguap sedikit pun.
  • Daur Ulang Panas (Heat Reuse): Mengalihkan pipa panas sisa server untuk memanaskan rumah-rumah warga di musim dingin.
  • Relokasi Ekstrem: Memindahkan data center ke wilayah bersuhu dingin seperti Arktik, menenggelamkannya ke dasar laut, atau bahkan menempatkan satelit komputasi di luar angkasa—seperti yang mulai diuji coba oleh NTT untuk menangani tugas-tugas komputasi cadangan (backup).

Teknologi kecerdasan buatan generatif memang tumbuh dengan kecepatan eksponensial (exponentially fast), namun dari kacamata peradaban, industri ini sebenarnya masih sangat muda. Ia harus belajar dewasa secara cepat untuk berbagi sumber daya bumi secara bertanggung jawab.

Peradaban Digital di Persimpangan Jalan

Kemajuan kecerdasan buatan menawarkan efisiensi luar biasa bagi peradaban manusia, namun ia menuntut harga ekologis yang sangat mahal jika tidak dikelola dengan bijaksana. Menjaga keseimbangan antara akselerasi inovasi masa depan dan perlindungan terhadap kebutuhan paling mendasar manusia—air bersih dan pangan—adalah batas tegas yang tidak boleh dilanggar.

Infrastruktur digital tercanggih sekalipun tidak boleh menghancurkan daya dukung lingkungan lokal. Di tengah pesatnya peradaban digital, apakah kita siap membayar harga sebuah jawaban instan AI dengan setetes demi setetes air bersih kehidupan kita?

Minggu, 03 Mei 2026

Ulangan Materi Teks Diskusi

 Sumatif Lingkup Materi

TAHUN PELAJARAN 2025/2026

Mata Pelajaran

: Bahasa Indonesia

Kelas/Semester

: 10/2 (Genap)

Waktu

: 90 menit

Hari, Tanggal

: Senin, 04 Mei 2026

PETUNJUK PENGERJAAN

  1. Isikan identitas Anda dalam lembar jawaban dengan teliti dan benar
  2. Tersedia waktu 90 menit untuk mengerjakan paket soal ini
  3. Periksalah naskah soal yang Anda terima
  4. Baca dan pahamilah dengan baik pernyataan atau soal sebelum Anda menjawab
  5. Periksalah pekerjaan Anda sebelum diserahkan kepada pengawas ujian

I. Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat!

1. Sebuah artikel opini di sebuah koran lokal membahas tentang pentingnya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Penulis artikel ini menyajikan data statistik mengenai peningkatan limbah plastik di laut dan dampaknya terhadap ekosistem. Selain itu, penulis juga menyertakan kutipan dari pakar lingkungan yang mendukung argumennya. Pada bagian akhir, penulis mengajak pembaca untuk mulai membawa tas belanja sendiri dan menggunakan botol minum isi ulang. Berdasarkan kasus tersebut, tujuan komunikatif utama dari teks persuasif ini adalah...

A. Menginformasikan dampak limbah plastik.

B. Menghibur pembaca dengan cerita lingkungan.

C. Membujuk pembaca agar mengubah perilaku konsumsi plastik.

D. Menganalisis kebijakan pemerintah terkait sampah.

E. Melaporkan hasil penelitian tentang polusi laut.

2. Dalam sebuah pidato kampanye, seorang calon kepala daerah menyatakan, 'Saudara-saudari sekalian, mari kita bangun kota ini bersama! Dengan program pendidikan gratis dan layanan kesehatan yang terjangkau, kita akan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi anak cucu kita. Jangan biarkan kesempatan emas ini berlalu begitu saja.' Struktur teks persuasif yang paling menonjol dalam kutipan pidato tersebut adalah...

A. Pengenalan isu.

B. Argumen pendukung.

C. Pernyataan ajakan.

D. Penegasan kembali.

E. Fakta dan data.

3. Perhatikan kutipan teks berikut: 'Melihat kondisi hutan kita yang semakin memprihatinkan akibat deforestasi, sudah saatnya kita semua bertindak. Pohon-pohon adalah paru-paru dunia; tanpa mereka, kualitas udara akan menurun drastis dan bencana alam akan sering terjadi. Oleh karena itu, mari kita galakkan program reboisasi dan hentikan penebangan liar demi masa depan bumi yang lebih hijau.' Kaidah kebahasaan yang paling dominan digunakan untuk meyakinkan pembaca dalam kutipan tersebut adalah...

A. Penggunaan konjungsi kausalitas.

B. Penggunaan kata kerja imperatif.

C. Penggunaan istilah teknis.

D. Penggunaan kata emotif.

E. Penggunaan kata ganti orang pertama.

4. Sebuah iklan layanan masyarakat tentang bahaya merokok menampilkan visual paru-paru yang rusak dan tulisan 'Rokok membunuhmu perlahan'. Iklan tersebut juga menyertakan nomor telepon bantuan untuk berhenti merokok. Tujuan komunikatif dari iklan layanan masyarakat tersebut adalah...

A. Memberikan informasi medis tentang paru-paru.

B. Menghibur masyarakat dengan visual menarik.

C. Meyakinkan perokok untuk berhenti merokok.

D. Mempromosikan produk kesehatan tertentu.

E. Mengajak masyarakat untuk peduli lingkungan.

5. Seorang siswa menulis esai persuasif tentang pentingnya membaca buku di era digital. Ia memulai dengan data menurunnya minat baca di kalangan remaja, kemudian menyajikan argumen tentang manfaat membaca bagi perkembangan kognitif dan emosional, serta diakhiri dengan ajakan untuk meluangkan waktu membaca setiap hari. Bagian 'data menurunnya minat baca di kalangan remaja' dalam esai tersebut termasuk dalam struktur...

A. Pernyataan ajakan.

B. Pengenalan isu.

C. Argumen pendukung.

D. Penegasan kembali.

E. Kesimpulan.

6. Perhatikan gambar poster berikut ini. Poster ini sering dijumpai di area publik. Poster tersebut menunjukkan seorang anak kecil membuang sampah pada tempatnya, dengan tulisan besar 'BUANG SAMPAH PADA TEMPATNYA! Kebersihan adalah tanggung jawab kita bersama.' Di bagian bawah terdapat logo pemerintah daerah. Kaidah kebahasaan yang paling menonjol dalam poster ini untuk meyakinkan pembaca adalah...

Ilustrasi

A.    Penggunaan konjungsi temporal.

B.    Penggunaan kata kerja imperatif.

C.    Penggunaan kata sifat deskriptif.

D.    Penggunaan kalimat tanya retoris.

E.    Penggunaan majas personifikasi.

7. Sebuah kampanye digital mengajak masyarakat untuk mendukung gerakan penanaman pohon di lahan kritis. Kampanye ini menampilkan video pendek tentang dampak positif penanaman pohon terhadap lingkungan dan ekonomi lokal. Mereka juga menyertakan testimoni dari petani yang merasakan manfaatnya. Pada akhir video, ada tautan untuk berdonasi. Tujuan komunikatif kampanye tersebut adalah...

A. Menyediakan hiburan visual.

B. Mengedukasi tentang jenis-jenis pohon.

C. Meyakinkan masyarakat untuk berdonasi dan berpartisipasi.

D. Melaporkan kondisi lahan kritis.

E. Menganalisis kebijakan lingkungan.

8. Dalam sebuah artikel tentang pentingnya sarapan, penulis menyajikan data bahwa siswa yang sarapan cenderung memiliki konsentrasi belajar yang lebih baik. Penulis juga mengutip pendapat ahli gizi tentang nutrisi penting yang didapat dari sarapan. Struktur yang digunakan penulis untuk memaparkan data dan kutipan ahli gizi ini adalah...

A. Pengenalan isu.

B. Pernyataan ajakan.

C. Argumen pendukung.

D. Penegasan kembali.

E. Kesimpulan.

9. Seorang guru memberikan tugas kepada siswanya untuk membuat poster tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Salah satu siswa menuliskan kalimat 'Jagalah kebersihan demi kenyamanan kita bersama!' pada posternya. Kaidah kebahasaan yang digunakan siswa tersebut untuk meyakinkan pembaca adalah...

A. Penggunaan kata seru.

B. Penggunaan kata penghubung.

C. Penggunaan kata kerja imperatif.

D. Penggunaan kata ganti orang ketiga.

E. Penggunaan kalimat pasif.

10. Sebuah pamflet kesehatan menganjurkan untuk melakukan vaksinasi flu setiap tahun. Pamflet tersebut menjelaskan bahwa vaksinasi dapat mengurangi risiko komplikasi serius dan penyebaran virus. Pamflet ini juga menyertakan testimoni dari orang-orang yang merasa terbantu setelah divaksin. Berdasarkan informasi tersebut, tujuan komunikatif dari pamflet kesehatan tersebut adalah...

A. Melaporkan angka kasus flu.

B. Menjelaskan mekanisme virus flu.

C. Membujuk masyarakat untuk melakukan vaksinasi flu.

D. Menganalisis efektivitas vaksin.

E. Menyajikan sejarah vaksinasi flu.

 

Rabu, 29 April 2026

Ulangan Harian Materi Puisi

 

Sumatif Lingkup Materi Puisi

TAHUN PELAJARAN 2025/2026

Mata Pelajaran

: Bahasa Indonesia

Kelas/Semester

: 10/2 (Genap)

Waktu

: 90 menit

Hari, Tanggal

: Kamis, 30 April 2026

PETUNJUK PENGERJAAN

  1. Isikan identitas Anda dalam lembar jawaban dengan teliti dan benar
  2. Tersedia waktu 90 menit untuk mengerjakan paket soal ini
  3. Periksalah naskah soal yang Anda terima
  4. Baca dan pahamilah dengan baik pernyataan atau soal sebelum Anda menjawab
  5. Periksalah pekerjaan Anda sebelum diserahkan kepada pengawas ujian

I. Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat!

1. Apa yang dimaksud dengan 'diksi' dalam puisi?

A. Pilihan kata yang digunakan penyair untuk menyampaikan makna.

B. Susunan rima pada akhir setiap baris puisi.

C. Gaya bahasa yang digunakan untuk memperindah puisi.

D. Jumlah larik dalam setiap bait puisi.

E. Pengulangan bunyi dalam puisi.

2. Unsur intrinsik puisi yang berkaitan dengan perasaan atau suasana hati penyair adalah...

A. Tema

B. Nada

C. Amanat

D. Majas

E. Rima

3. Bacalah kutipan puisi berikut: 'Senja merona, memudar di ufuk barat. Burung-burung pulang, tinggalkan jejak sunyi.' Apa makna dari 'senja merona' dalam kutipan tersebut?

A. Senja yang berwarna-warni.

B. Senja yang mulai gelap.

C. Senja yang cerah dan bersinar.

D. Senja yang menakutkan.

E. Senja yang penuh dengan aktivitas.

4. Apa fungsi rima dalam puisi?

A. Memberikan keindahan bunyi dan ritme.

B. Menyampaikan pesan moral kepada pembaca.

C. Menggambarkan karakter tokoh dalam puisi.

D. Membuat puisi menjadi lebih panjang.

E. Memudahkan pembaca untuk menghafal puisi.

5. Perhatikan gambar berikut. Gambar ini menunjukkan seorang remaja yang sedang menulis di buku catatan dengan latar belakang urban yang modern. Ia tampak serius dan fokus pada tulisannya. Di sekitarnya terdapat beberapa coretan abstrak dan simbol-simbol digital yang mencerminkan dunia Gen Z. Cahaya matahari senja menyinari dari samping, menciptakan suasana yang melankolis namun inspiratif. Bagaimana perasaan yang mungkin timbul saat melihat gambar tersebut, jika dihubungkan dengan tema puisi Gen Z?

Ilustrasi

A.    Kegembiraan dan keceriaan.

B.    Keresahan dan pencarian jati diri.

C.    Ketidakpedulian terhadap lingkungan.

D.    Kemewahan dan gaya hidup glamor.

E.    Keterikatan pada tradisi lama.

6. Mengapa puisi seringkali menggunakan majas atau gaya bahasa?

A. Untuk memperjelas makna secara harfiah.

B. Untuk membuat puisi lebih mudah dipahami semua kalangan.

C. Untuk menambah keindahan, daya tarik, dan kedalaman makna.

D. Agar puisi terlihat lebih panjang dan berbobot.

E. Sebagai cara untuk menyembunyikan pesan utama.

7. Perhatikan kutipan puisi berikut: 'Dunia maya, jendela tanpa batas. Jemari menari, di atas layar kaca. Mencari makna, di antara algoritma.' Apa tema utama yang tersirat dari kutipan puisi Gen Z tersebut?

A. Keindahan alam.

B. Perjuangan hidup di pedesaan.

C. Interaksi manusia dengan teknologi dan dunia digital.

D. Romansa percintaan anak muda.

E. Kritik sosial terhadap pemerintah.

8. Bagaimana karakteristik puisi yang ditulis oleh Gen Z seringkali berbeda dari puisi angkatan sebelumnya?

A. Lebih kaku dalam penggunaan bahasa dan struktur.

B. Cenderung menghindari tema-tema personal dan emosional.

C. Seringkali memanfaatkan bahasa sehari-hari, referensi pop culture, dan isu-isu digital.

D. Lebih banyak menggunakan rima teratur dan terikat pada aturan baku.

E. Fokus pada glorifikasi sejarah dan pahlawan nasional.

9. Apa dampak penggunaan bahasa gaul atau bahasa non-baku dalam puisi Gen Z terhadap penerimaan pembaca?

A. Selalu membuat puisi sulit dipahami oleh pembaca umum.

B. Membatasi audiens hanya pada kalangan yang memahami bahasa tersebut.

C. Dapat menciptakan kedekatan dengan pembaca sebaya, namun mungkin kurang dipahami generasi lain.

D. Secara otomatis menurunkan kualitas estetika puisi.

E. Tidak memiliki dampak signifikan terhadap penerimaan pembaca.

10. Perhatikan gambar berikut. Gambar ini menampilkan seorang remaja yang sedang memegang ponsel dengan layar menyala, terpantul di wajahnya. Ekspresinya terlihat agak sendu atau termenung. Di latar belakang, terlihat siluet bangunan kota dan beberapa ikon media sosial yang samar-samar. Suasana keseluruhan terasa sunyi dan introspektif, seolah mencerminkan keterhubungan yang kompleks antara individu dan dunia digital. Apa yang dapat disimpulkan tentang hubungan antara individu dan teknologi dari gambar tersebut, jika diinterpretasikan melalui lensa puisi Gen Z?

Ilustrasi

A.    Teknologi selalu membawa kebahagiaan dan koneksi yang mudah.

B.    Teknologi dapat menjadi sumber isolasi dan refleksi diri.

C.    Teknologi hanya digunakan untuk hiburan semata.

D.    Teknologi sepenuhnya mengendalikan kehidupan remaja.

E.    Teknologi tidak memiliki dampak emosional pada individu.

11. Bagaimana cara menikmati puisi yang efektif?

A. Membacanya dengan cepat tanpa jeda.

B. Fokus pada mencari kesalahan tata bahasa.

C. Meresapi setiap kata, membayangkan, dan merasakan emosi yang disampaikan.

D. Memaksakan diri untuk memahami setiap makna secara harfiah.

E. Membacanya hanya sekali dan langsung melupakannya.

12. Menurut Anda, mengapa puisi Gen Z seringkali mengangkat isu-isu seperti kesehatan mental, identitas, dan krisis iklim?

A. Karena isu-isu tersebut adalah tren sesaat yang menarik perhatian.

B. Karena Gen Z tidak memiliki topik lain untuk dibahas.

C. Karena isu-isu tersebut sangat relevan dengan pengalaman dan kekhawatiran mereka sebagai generasi.

D. Karena puisi Gen Z hanya ingin terlihat berbeda dari generasi sebelumnya.

E. Karena isu-isu tersebut mudah untuk dibuat menjadi rima.

13. Jika Anda diminta menulis puisi tentang 'kecemasan digital' yang dialami Gen Z, unsur apa yang paling krusial untuk ditonjolkan agar pesan tersampaikan dengan kuat?

A.Penggunaan rima yang sangat teratur.

B. Deskripsi mendetail tentang perangkat teknologi.

C. Penggambaran emosi internal, kontradiksi, dan dampak psikologis dari dunia digital.

D. Penggunaan bahasa arkais dan sulit dipahami.

E. Fokus pada keindahan alam yang kontras dengan teknologi.

14. Bagaimana kamu akan menganalisis sebuah puisi yang menggunakan banyak referensi media sosial dan meme?

A. Mengabaikan referensi tersebut karena dianggap tidak relevan dengan puisi.

B. Mencari tahu makna dan konteks dari setiap referensi untuk memahami pesan penyair.

C. Hanya fokus pada rima dan irama puisi.

E. Menyimpulkan bahwa puisi tersebut tidak serius dan tidak memiliki makna mendalam.

F. Membandingkannya dengan puisi-puisi klasik yang tidak memiliki referensi serupa.

15. Jika Anda menemukan puisi Gen Z yang provokatif dan mengkritik norma sosial, apa tujuan utama penyair dalam menciptakan karya tersebut?

A. Hanya untuk mencari sensasi dan perhatian.

B. Untuk menghibur pembaca dengan gaya bahasa yang unik.

C. Untuk memicu diskusi, merangsang pemikiran kritis, dan menyuarakan ketidakpuasan.

D. Untuk menunjukkan bahwa mereka memiliki kebebasan berekspresi tanpa batasan.

E. Untuk membuat pembaca merasa tidak nyaman dan marah.

16. Bagaimana puisi dapat membantu Gen Z dalam mengekspresikan identitas diri mereka yang kompleks dan berubah-ubah?

A. Puisi memberikan batasan yang jelas agar identitas tidak berubah.

B. Puisi hanya cocok untuk mengekspresikan identitas yang sudah mapan.

C. Puisi menjadi media yang fleksibel dan personal untuk menjelajahi, merenungkan, dan mengungkapkan berbagai sisi identitas.

D. Puisi memaksa Gen Z untuk menyesuaikan identitas mereka dengan norma sastra.

E. Puisi tidak memiliki hubungan apapun dengan ekspresi identitas.

17. Apa itu 'citraan' dalam puisi?

A. Penggambaran yang melibatkan indra penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, dan pengecapan.

B. Pesan moral yang ingin disampaikan penyair.

C. Gaya penulisan yang hanya menggunakan kata-kata konkret.

D. Susunan bait yang teratur.

E. Pengulangan bunyi vokal.

18. Bagaimana Anda dapat mengidentifikasi tema sebuah puisi?

A. Dengan menghitung jumlah kata dalam puisi.

B. Dengan melihat nama penyairnya.

C. Dengan mencari gagasan pokok atau ide sentral yang mendasari keseluruhan puisi.

D. Dengan memperhatikan panjang setiap baris.

E. Dengan menganalisis jenis huruf yang digunakan.

19. Apa yang dimaksud dengan 'amanat' dalam puisi?

A. Gaya bahasa yang digunakan penyair.

B. Pesan moral atau nasihat yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca.

C. Jumlah baris dalam setiap bait.

D. Susunan kata yang indah.

E. Latar waktu dan tempat dalam puisi.

20. Mengapa puisi Gen Z seringkali bersifat eksperimental dalam bentuk dan struktur?

A. Karena mereka tidak memahami aturan penulisan puisi tradisional.

B. Untuk menentang kebiasaan dan mencari cara baru dalam berekspresi yang sesuai dengan zaman mereka.

C. Agar puisi mereka lebih sulit dipahami oleh pembaca.

D. Karena mereka ingin membuat puisi yang sangat panjang.

E. Untuk mengurangi jumlah kata yang digunakan dalam puisi.

Sabtu, 10 Januari 2026

Anjing Kecil yang Tidak Pernah Kumarahi

Di suatu pagi yang biasa, aku duduk bersama anakku. Udara tenang, hari berjalan sebagaimana mestinya, sampai seekor anjing kecil datang. Tubuhnya kecil, suaranya nyaring, langkahnya berani. Ia mendekat, mengganggu, dan tidak pergi meski kehadirannya membuat tidak nyaman.

Aku melihatnya.
Aku kesal.
Aku takut.

Namun tidak satu pun kata keluar dari mulutku.

Aku bergeser sedikit. Aku melindungi anakku sebisaku. Aku menahan napas, berharap anjing itu pergi sendiri. Ketika tidak juga pergi, aku meminta orang lain menegur. Teguran itu datang terlambat. Dan bersama keterlambatan itu, ketakutanku memanjang—lebih lama, lebih melelahkan.

Anjing itu pergi.
Namun sesuatu tertinggal.


Malamnya, aku teringat masa kecilku.
Tentang bagaimana marah selalu berakhir dengan dimarahi.
Tentang bagaimana diam terasa paling aman.
Tentang bagaimana aku belajar bahwa anak baik tidak membuat suara, tidak menuntut, tidak melawan.

Aku tumbuh dengan keyakinan itu.
Dan keyakinan itu tumbuh bersamaku.


Suatu hari di kelas, aku berbicara dengan muridku.
Seorang anak yang pikirannya dipenuhi asumsi.
Cerita-cerita yang terus berputar di kepalanya, seolah-olah itu kebenaran.

Aku menatapnya dan berkata,
“Kamu harus berhenti. Bentak dirimu sendiri. Tampar asumsimu. Katakan: berhenti. Kamu tidak boleh mengambil kendali hidupku lagi.”

Kalimat itu keluar tegas. Jelas. Hidup.

Dan di saat itulah aku terdiam.

Karena aku sadar:
anak yang sedang kutegur itu… adalah aku sendiri.


Aku menyadari sesuatu yang selama ini kuhindari:
aku bukan tidak bisa marah.
aku hanya tidak merasa aman saat marah.

Diam bukanlah kebaikan.
Diam adalah tempat berlindung.

Aku belajar menahan bukan karena luhur,
tetapi karena takut kehilangan cinta.


Anehnya, hanya pada satu orang aku bisa marah: suamiku.

Di sanalah suaraku keluar paling keras.
Di sanalah emosiku meledak tanpa izin.

Bukan karena suamiku paling bersalah.
Melainkan karena hanya di sanalah tubuhku percaya: aku tidak akan ditinggalkan.

Rumah menjadi satu-satunya tempat marah yang bocor.


Hari-hari berikutnya, aku mulai belajar hal baru.

Aku tidak langsung berteriak.
Aku tidak langsung berani.

Aku hanya mulai berkata pelan pada diriku sendiri,
“Aku marah. Dan aku aman.”

Aku mengepalkan tangan lalu melepasnya.
Menghentakkan kaki.
Mengatakan “berhenti” pada udara kosong.

Aku belajar mengatakan tidak tanpa penjelasan.
Belajar bahwa batas tidak harus galak, cukup jelas.
Belajar bahwa marah bukan untuk menguasai, tetapi melindungi.


Suatu sore, saat aku kembali mengingat anjing kecil itu, aku tersenyum pahit.

Aku akhirnya mengerti:
anjing itu bukan tentang hewan.

Ia adalah luka kecil yang selama ini kubiarkan.
Tak pernah kumarahi.
Tak pernah kuusir.

Dan kali ini, aku membayangkan diriku berdiri tegak.
Tidak berteriak.
Tidak gemetar.

Aku berkata,
“Berhenti.”

Dan dunia tidak runtuh.


Karena untuk pertama kalinya,
aku tidak sedang menjadi anak yang harus selamat.
Aku sedang menjadi orang dewasa yang memilih hidup.

Selasa, 06 Januari 2026

Lkpd Penguatan Pemahaman Teks Negosiasi (fokus Strategi)


LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD)

Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia

Kelas/Semester : X / Ganjil

Materi : Teks Negosiasi

Fokus : Strategi dalam Teks Negosiasi


A. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengerjakan LKPD ini, peserta didik diharapkan mampu:

  1. Mengidentifikasi strategi negosiasi dalam teks.

  2. Menjelaskan tujuan penggunaan strategi negosiasi.

  3. Menganalisis efektivitas strategi negosiasi dalam mencapai kesepakatan.

  4. Mengganti strategi negosiasi yang kurang tepat dengan strategi yang lebih efektif.


B. Petunjuk Pengerjaan

  1. Bacalah Materi Singkat pada bagian C terlebih dahulu agar kamu memahami konsep strategi negosiasi.

  2. Bacalah teks negosiasi dengan saksama.

  3. Kerjakan LKPD secara berkelompok (3–4 orang).

  4. Diskusikan setiap jawaban dengan anggota kelompok.

  5. Tuliskan jawaban dengan bahasa yang jelas dan logis.


C. Materi Singkat – Memahami Strategi Teks Negosiasi

1. Apa itu Teks Negosiasi?

Teks negosiasi adalah teks yang berisi proses interaksi antara dua pihak atau lebih yang memiliki kepentingan berbeda untuk mencapai kesepakatan bersama. Dalam negosiasi, setiap pihak berusaha memperjuangkan kepentingannya dengan cara berbahasa yang tepat.

2. Mengapa Strategi dalam Negosiasi Itu Penting?

Keberhasilan negosiasi tidak hanya ditentukan oleh apa yang diminta, tetapi bagaimana cara menyampaikannya. Oleh karena itu, penutur menggunakan berbagai strategi agar lawan bicara bersedia menyetujui keinginannya.

3. Jenis-Jenis Strategi dalam Teks Negosiasi

Perhatikan penjelasan berikut.

a. Strategi Pembukaan
Digunakan untuk menciptakan suasana akrab dan membangun simpati.

  • Contoh: “Bukunya kelihatannya masih bagus, ya.”

b. Strategi Penawaran
Digunakan untuk menyampaikan keinginan atau permintaan.

  • Contoh: “Kalau saya ambil dua buku, apakah harganya bisa lebih murah?”

c. Strategi Tawar-menawar
Digunakan ketika terjadi perbedaan kepentingan antara kedua pihak.

  • Contoh: “Harganya sebenarnya segitu, tapi bisa saya kurangi sedikit.”

d. Strategi Kompromi
Digunakan untuk mencari jalan tengah agar kedua pihak sama-sama diuntungkan.

  • Contoh: “Kalau begitu, kita sepakati harga di tengah.”

e. Strategi Persuasi
Digunakan untuk meyakinkan lawan bicara dengan alasan logis atau emosional.

  • Contoh: “Buku ini masih layak dan banyak dicari siswa.”

f. Strategi Penutupan
Digunakan untuk mengakhiri negosiasi setelah tercapai kesepakatan.

  • Contoh: “Baik, saya setuju.”

4. Kepentingan vs Keinginan

  • Kepentingan: hal utama yang ingin dicapai (misalnya: mendapatkan harga terjangkau).

  • Keinginan: cara atau bentuk permintaan (misalnya: meminta diskon besar).

Dalam teks negosiasi, penutur sering menyembunyikan kepentingannya melalui strategi bahasa.


D. Teks Negosiasi

  1. Bacalah teks negosiasi dengan saksama.

  2. Kerjakan LKPD secara berkelompok (3–4 orang).

  3. Diskusikan setiap jawaban dengan anggota kelompok.

  4. Tuliskan jawaban dengan bahasa yang jelas dan logis.


C. Teks Negosiasi

Konteks: Negosiasi antara penjual dan pembeli buku pelajaran.

Pembeli: Pak, bukunya kelihatannya masih bagus, ya. Saya memang sedang mencari buku ini untuk sekolah.

Penjual: Iya, ini masih layak pakai. Banyak siswa juga mencari buku ini karena edisinya lengkap.

Pembeli: Kalau saya ambil dua buku, apakah harganya bisa sedikit lebih murah?

Penjual: Sebenarnya harga pasnya segitu, tapi kalau ambil dua, saya kurangi sedikit.

Pembeli: Baiklah, kalau begitu saya setuju. Terima kasih, Pak.


D. Kegiatan 1 – Mengidentifikasi Strategi Negosiasi

Isilah tabel berikut berdasarkan teks di atas!

NoKutipan KalimatStrategi NegosiasiTujuan Strategi
1.


2.


3.


Petunjuk: Strategi dapat berupa pembukaan, penawaran, tawar-menawar, kompromi, persuasi, atau penutupan.


E. Kegiatan 2 – Memahami Kepentingan Penutur

Jawablah pertanyaan berikut!

  1. Apa kepentingan utama pembeli dalam teks tersebut?

  2. Apa kepentingan utama penjual?

  3. Strategi apa yang digunakan pembeli untuk mencapai kepentingannya?

  4. Apakah penjual bersikap fleksibel? Jelaskan alasannya!


F. Kegiatan 3 – Menilai Efektivitas Strategi

Diskusikan dan jawablah!

  1. Strategi siapa yang paling efektif dalam negosiasi tersebut?

  2. Bagian mana dari teks yang menunjukkan adanya kompromi?

  3. Mengapa kompromi tersebut dapat menghasilkan kesepakatan?


G. Kegiatan 4 – Mengganti Strategi Negosiasi

Perhatikan kalimat berikut!

“Pokoknya harganya tidak bisa kurang. Kalau mau, ya beli.”

  1. Termasuk strategi negosiasi apakah kalimat tersebut?

  2. Mengapa strategi tersebut kurang efektif?

  3. Ubahlah kalimat tersebut menjadi kalimat negosiasi yang lebih efektif dengan strategi kompromi atau persuasi!

Jawaban Anda: .....................................................................................


H. Refleksi Individu

Jawablah secara singkat!

  1. Strategi negosiasi apa yang paling sering kamu temukan dalam kehidupan sehari-hari?

  2. Mengapa memahami strategi dalam teks negosiasi itu penting?


I. Latihan Penguatan Pemahaman Strategi Negosiasi

Latihan 1 – Pilihan Strategi

Bacalah kalimat berikut, lalu tentukan strategi negosiasi yang digunakan!

  1. “Saya paham Bapak juga perlu untung, tapi sebagai siswa kami punya keterbatasan dana.”
    Strategi: ....................................................

  2. “Kalau begitu, bagaimana jika kita sepakati harga di tengah saja?”
    Strategi: ....................................................

  3. “Banyak pembeli lain yang juga mencari barang ini karena kualitasnya bagus.”
    Strategi: ....................................................


Latihan 2 – Analisis Strategi dalam Teks

Perhatikan kutipan berikut!

“Sebenarnya harga normalnya segitu, tetapi karena kamu membeli lebih dari satu, saya bisa memberi potongan.”

Jawablah pertanyaan berikut:

  1. Strategi apa yang digunakan penjual?

  2. Apa tujuan penggunaan strategi tersebut?

  3. Apakah strategi tersebut efektif? Jelaskan alasanmu!


Latihan 3 – Mengubah Strategi

Ubahlah kalimat berikut agar menggunakan strategi yang lebih efektif!

“Kalau tidak mau dengan harga ini, silakan cari di tempat lain.”

Tuliskan hasil perbaikannya: ..........................................................................


J. Instrumen Penilaian

1. Penilaian Pengetahuan (Pemahaman Strategi)

Aspek yang DinilaiSkor 4Skor 3Skor 2Skor 1
Identifikasi strategiTepat dan lengkapTepat tetapi kurang lengkapKurang tepatTidak tepat
Penjelasan tujuan strategiSangat jelas dan logisCukup jelasKurang jelasTidak jelas
Analisis efektivitasMendalam dan kritisCukup kritisKurang kritisTidak menganalisis

2. Penilaian Keterampilan (Mengganti Strategi)

KriteriaSkor 4Skor 3Skor 2Skor 1
Kesesuaian strategiSangat sesuaiSesuaiKurang sesuaiTidak sesuai
Kejelasan bahasaSangat jelas dan santunJelasKurang jelasTidak jelas
Keefektifan kalimatSangat efektifEfektifKurang efektifTidak efektif

3. Penilaian Sikap (Diskusi)

AspekYaTidak
Aktif berdiskusi

Menghargai pendapat teman

Bertanggung jawab dalam kelompok


K. Kesimpulan

Tuliskan kesimpulan kelompokmu tentang pentingnya strategi dalam teks negosiasi!

..........................................................................


Catatan Guru:
Instrumen penilaian dapat disesuaikan dengan kebutuhan kelas dan digunakan sebagai asesmen formatif atau sumatif.