Di suatu pagi yang biasa, aku duduk bersama anakku. Udara tenang, hari berjalan sebagaimana mestinya, sampai seekor anjing kecil datang. Tubuhnya kecil, suaranya nyaring, langkahnya berani. Ia mendekat, mengganggu, dan tidak pergi meski kehadirannya membuat tidak nyaman.
Aku melihatnya.
Aku kesal.
Aku takut.
Namun tidak satu pun kata keluar dari mulutku.
Aku bergeser sedikit. Aku melindungi anakku sebisaku. Aku menahan napas, berharap anjing itu pergi sendiri. Ketika tidak juga pergi, aku meminta orang lain menegur. Teguran itu datang terlambat. Dan bersama keterlambatan itu, ketakutanku memanjang—lebih lama, lebih melelahkan.
Anjing itu pergi.
Namun sesuatu tertinggal.
Malamnya, aku teringat masa kecilku.
Tentang bagaimana marah selalu berakhir dengan dimarahi.
Tentang bagaimana diam terasa paling aman.
Tentang bagaimana aku belajar bahwa anak baik tidak membuat suara, tidak menuntut, tidak melawan.
Aku tumbuh dengan keyakinan itu.
Dan keyakinan itu tumbuh bersamaku.
Suatu hari di kelas, aku berbicara dengan muridku.
Seorang anak yang pikirannya dipenuhi asumsi.
Cerita-cerita yang terus berputar di kepalanya, seolah-olah itu kebenaran.
Aku menatapnya dan berkata,
“Kamu harus berhenti. Bentak dirimu sendiri. Tampar asumsimu. Katakan: berhenti. Kamu tidak boleh mengambil kendali hidupku lagi.”
Kalimat itu keluar tegas. Jelas. Hidup.
Dan di saat itulah aku terdiam.
Karena aku sadar:
anak yang sedang kutegur itu… adalah aku sendiri.
Aku menyadari sesuatu yang selama ini kuhindari:
aku bukan tidak bisa marah.
aku hanya tidak merasa aman saat marah.
Diam bukanlah kebaikan.
Diam adalah tempat berlindung.
Aku belajar menahan bukan karena luhur,
tetapi karena takut kehilangan cinta.
Anehnya, hanya pada satu orang aku bisa marah: suamiku.
Di sanalah suaraku keluar paling keras.
Di sanalah emosiku meledak tanpa izin.
Bukan karena suamiku paling bersalah.
Melainkan karena hanya di sanalah tubuhku percaya: aku tidak akan ditinggalkan.
Rumah menjadi satu-satunya tempat marah yang bocor.
Hari-hari berikutnya, aku mulai belajar hal baru.
Aku tidak langsung berteriak.
Aku tidak langsung berani.
Aku hanya mulai berkata pelan pada diriku sendiri,
“Aku marah. Dan aku aman.”
Aku mengepalkan tangan lalu melepasnya.
Menghentakkan kaki.
Mengatakan “berhenti” pada udara kosong.
Aku belajar mengatakan tidak tanpa penjelasan.
Belajar bahwa batas tidak harus galak, cukup jelas.
Belajar bahwa marah bukan untuk menguasai, tetapi melindungi.
Suatu sore, saat aku kembali mengingat anjing kecil itu, aku tersenyum pahit.
Aku akhirnya mengerti:
anjing itu bukan tentang hewan.
Ia adalah luka kecil yang selama ini kubiarkan.
Tak pernah kumarahi.
Tak pernah kuusir.
Dan kali ini, aku membayangkan diriku berdiri tegak.
Tidak berteriak.
Tidak gemetar.
Aku berkata,
“Berhenti.”
Dan dunia tidak runtuh.
Karena untuk pertama kalinya,
aku tidak sedang menjadi anak yang harus selamat.
Aku sedang menjadi orang dewasa yang memilih hidup.